Peluang Besar Ponsel TV Merek Lokal

Oleh Dian Mumpuni

PRODUSEN telepon seluler kini menawarkan teknologi yang bisa mendistribusikan citra bergerak. Setelah ponsel kamera, dan ponsel musik, kini saatnya menikmati ponsel televisi! Mobile TV diprediksi bakal menjadi killer application di tahun depan. Di pasaran, kini sudah beredar ponsel televisi yang mengadopsi tiga jenis teknologi. Pertama, menggunakan jaringan 3G melalui tv streaming atau broadcasting. Kedua, memakai jaringan televisi konvensional, di mana ponsel menggunakan  TV tuner.  Ketiga, menggunakan jaringan tersendiri (DVB, DMB).
Di antara ketiganya, ponsel built in TV tuner atau ponsel bertelevisi, ternyata lebih banyak peminat. Karena ponsel dengan televisi analog jauh lebih praktis dibanding televisi kecil. Dengan harga berkisar Rp 2 juta, lebih hemat dibanding membeli ponsel dan televisi secara terpisah.

Ponsel jenis ini juga membuat kita bisa menikmati televisi tanpa biaya (pulsa tidak
berkurang), bisa juga tanpa kartu SIM. Pengguna bisa menonton siaran favorit di
atas layar  sekitar 2,6 inchi melalui kabel yang tersedia. Kualitas gambar tergantung jangkauan penerimaan frekuensi.
Ponsel ini bisa menangkap semua stasiun televisi lokal, bisa juga siaran
televisi berbayar. Dengan handset ini kita bisa tetap berhalo-halo. Dan, asal
baterai penuh, menonton televisi bisa dilakukan kapan dan di mana saja.
Merek Lokal
Di antara kepungan merek international, ponsel televisi merek asli dalam negeri mencoba
unjuk gigi. Hi Tech  misalnya mengukuhkan diri sebagai vendor ponsel yang secara serius mengeksplorasi fitur TV tuner.
Hi Tech memang bukan ponsel televisi yang pertama beredar di Indonesia.
Karena pada akhir 2004, merek internasional, Nokia 7710 masuk ke pasaran dengan
harga Rp 5, 2 juta. Perusahaan asal Taiwan  I-mobile serta Gigabyte juga memproduksi
ponsel serupa. Namun nasibnya keduanya sama dengan Nokia 7710. Kurang diminati.
Begitu juga Sony Ericsson V800, Motorola V980, Samsung SCH-B100, tiga yang
terakhir tidak masuk Indonesia.
Hi Tech kini mencoba mencari celah, dan berhasil. PT Tirta Citra Nusantara (TCN) pemegang hak merek Hi Tech bahkan kekurangan stok  beberapa bulan terakhir. Ponsel TV Hitech H38 yang meluncur Agustus 2007 ternyata melebihi ekspektasi target
penjualan. Sebuah debut fenomenal untuk produk besutan lokal.
Cukup mengejutkan, karena ponsel TV yang dirancang sendiri oleh perusahaan yang beroperasi sebagai pusat layanan produk ponsel BenQ-Siemens di Indonesia, semula hanya ditargetkan terjual 2.000 unit per bulan.
‘’Ternyata dalam setengah bulan penjualannya telah menembus 4.000 unit,’’ ungkap Manajer Pemasaran TCN, Kusuma Ruslan. Kemudian, lanjutnya, ponsel TV ini berhasil terjual sekitar 7.000 unit di akhir Agustus dan menembus level penjualan 10.000 unit pada akhir September 2007.
Dengan banyaknya peminat, ponsel TV ini sempat dijual pedagang retail melebihi harga yang ditentukan distributor. Dari harga aslinya sebesar Rp 1,98 juta, menjadi sekitar Rp 2,2 juta.  ‘’Kami sempat kewalahan sehingga produk yang sedianya akan ditujukan ke pasar luar negeri terpaksa kami tarik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang di luar perkiraan kami,’’ kata Ruslan yang juga desainer ponsel TV tersebut.
Ruslan dengan bangga mengatakan berbagai forum dan milis di internet banyak membicarakan kesuksesan Hitech H38 TV Phone. Ia menyebutkan, harga yang terjangkau menjadi faktor utama dalam merebut perhatian pelanggan. Selain itu, pihaknya berusaha memenuhi keinginan pelanggan, seperti kualitas penerima siaran televisi yang bagus, bentuk yang langsing, fitur multimedia yang cukup lengkap, serta dukungan layanan purna jual.
Ruslan menyatakan ponsel rancangan dalam negeri tersebut untuk sementara dibuat di China. Namun, ia optimis, tak lama lagi handset tersebut bisa dibuat di dalam negeri.
Ia juga berkeyakinan ponsel built in TV tuner makin banyak diminati karena konsumen tak perlu bayar pulsa untuk menikmati acara televisi favorit. Karena itulah, pihaknya sudah mempersiapkan ponsel televisi baru yang akan diluncurkan awal 2008, yaitu Hi
Tech H39.
Ponsel anyar tersebut didukung layar widescreen yang tajam dan jernih membuat mata lebih nyaman saat menonton televisi. Teknologi TV tuner menggunakan sistem analog untuk proses pencarian sinyal. Untuktampilan televisi ataupun video bentuk layar bisa dipilih baik landscape ataupun portrait sesuai dengan kenyamanan mata.
‘’Layanan TV analog di Indonesia masih akan bertahan paling tidak selama delapan tahun ke depan. Ini berarti semua produk TV analog di Indonesia, termasuk TV yang ada di ponsel H38 dan H39, masih bisa berjaya sampai kurun waktu itu, sampai ada keputusan harus beralih ke TV digital seperti yang sudah dilakukan di sejumlah negara,’’ tandasnya.
Berkat kehadiran Hi Tech H38, fenomena TV di ponsel kembali merebak, meskipun sejatinya ponsel TV ini bukan yang pertama kali hadir di Indonesia. Sebelumnya sudah ada ponsel TV yang dirancang oleh Samart I-Mobile yang merupakan bagian dari penyedia ponsel multimedia operator seluler Excelcomindo Pratama (XL). Ponsel i-mobile TV901 besutan Samart memang sempat laku keras karena diluncurkan menjelang berlangsungnya Piala Dunia, awal Juni 2006 lalu.
Kesuksesan ponsel TV Hi Tech ternyata memicu munculnya produk serupa dari produsen lain. Nexian dan K-Touch telah mempersiapkan sejumlah produk ponsel TV. Vendor tersebut melihat masih besarnya peluang pasar di Indonesia.
Nexian, misalnya sudah meluncurkan NX G-500. Merek ponsel keluaran PT Inti Pisma
Internasional tersebut sebelumnya lebih membidik ponsel CDMA. NX G-500 sudah keluar sejak pertengahan Oktober lalu, dan baru grand launching akhir November.
Nexian NX G-500 memberikan fasilitas wah, layar besar dengan bodi bulky memberi tampilan luas menonton televise. Sama zeperti Hi Tech, keunggulan utama dari NX G-500 adalah TV tuner. Menonton acara televisi kini bisa dilakukan tanpa keluar sedikitpun pulsa seperti layanan TV dari ponsel 3G.Posisi landscape memberikan ruang luas untuk menonton televisi. Sayangnya tidak ada short-key untuk masuk ke fitur TV kecuali melalui menu. Tampil dengan layar besar 3 inchi an kekayaan warna sebanyak 262 ribu memberikan ketajaman warna.
Ponsel ni langsung diserap pasar dan terjual sekitar 15000 unit di seluruh Indonesia.
Nexian juga merupakan merek lokal di tengah kepungan nama internasional. Mereka
juga masih mengandalkan pabrik di China. Herbert Tobing, Direktur PT Inti Pisma optimis, Nexian bisa diterima masyarakat.
Negara China atau pun India  memang pionir produk berteknologi canggih di Asia. Meski pada awalnya muncul keraguan tapi lihatlah sekarang, produk-produk negara tersebut menjamur dan bahkan menjadi kekuatan aru di Asia.  Indonesia pun mencoba mengikuti
jejak kedua negara tersebut dengan membuat merek lokal. Keberanian mencoba, dan
konsisten, membuat PT Tirta Citra Nusantara dan PT Inti Pisma Internasional melirik
pasar ponsel berteknologi canggih dengan brand lokal. Meski sementara ini
handset masih dibuat di China, an perusahaan tersebut hanya menempelkan ‘’brand’’ namun muncul keyakinan, Indonesia bisa memproduksi sendiri handset seluler di dalam negeri.halounik@yahoo.co.id

2 thoughts on “Peluang Besar Ponsel TV Merek Lokal

  1. Alloo..

    Numpang tanya, Ponsel TV tuner yang CDMA sudah ada belum di indonesia?
    Kyaknya kebnyakan yang saya ketahuai beroperasi pada jaringan GSM.
    Mohon pendapatnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s