Operator Bersaing, Churn Kian Marak

Oleh Valen Yoano

Pernahkah anda berpindah operator kartu prabayar anda? Bila pernah, berarti anda telah melakukan churn atau perpindahan dari satu operator ke operator lain. Tidak salah memang, tapi churn membuat statistik pengguna prabayar tidak akurat lagi. Bila sebuah operator mengkalim memiliki 40 juta pelanggan prabayar, itu bukanlah angka riil, karena sebagian dari pelanggan diduga melakukan churn.
Menurut survei yang dilakukan Ericsson, pada tahun 2005 tingkat churn di Indonesia tertinggi di Asia Tenggara, yaitu 26%. Lebih tinggi dari Singapura (17%), Filipina (14%), Malaysia (9%). Angka ini cenderung meningkat di tahun-tahun berikutnya, terutama di Indonesia, karena beberapa faktor seperti semakin murahnya harga kartu perdana, persaingan antar operator yang semakin ketat, serta lemahnya loyalitas pelanggan.
Menurut Par Karlsson, regional manager consumer and enterprise Lab Ericsson Swedia, porsi pengguna yang sering melakukan churn mayoritas adalah konsumen muda yang gemar bereksplorasi dan sebagian kalangan terdidik.
Di Indonesia, perilaku churn banyak dilakukan kalangan pelajar. Bagi mereka ponsel belumlah menjadi kebutuhan vital, lebih sering digunakan untuk berkirim salam atau bertukar cerita-cerita remeh dan sepele antar teman. Pemilihan kartu prabayar pun lebih sering berdasar kesepakatan komunitas. Kalau seorang teman menggunakan kartu X, maka teman-teman lainnya juga menggunakan kartu yang sama.
Pada sisi lain, remaja juga gampang terbujuk promosi. Bila sebuah operator mempromosikan kartu prabayar dengan berbagai keunggulannya, maka remaja akan berpaling untuk menggunakan kartu tersebut.
Bagi yang gemar bicara, akan memilih kartu yang sedang menerapkan tarif bicara murah. Begitu pula yang gemar berkirim SMS, akan mencari kartu dengan tarif SMS termurah, meskipun mereka tahu tarif murah tersebut hanya berlaku selama masa promosi.
“Aku ini doyan banget SMS. Sehari bisa kirim 20-an SMS. Makanya aku suka ganti kartu yang tarif SMS-nya paling murah,” tutur Diani Ekasari (17), siswi sebuah SMA swasta di Pekalongan yang kini bersama geng-nya memakai IM3.
Sementara Widyaningsih (29), guru TK di Limpung, Batang, beralih menggunakan XL Bebas yang menerapkan tarif bicara per detik. Alasannya karena dinilai lebih murah dan cepat, daripada SMS. “Untuk satu keperluan, setidaknya butuh 2 – 3 SMS, bahkan lebih. Kalau nelpon, satu menit selesai. Jatuhnya lebih murah nelpon daripada SMS,” jelasnya.
Lain lagi alasan churn yang dilakukan Kawe Shamudra, pengarang dari Batang. Kawe yang kini sibuk menulis skenario sinetron ini terpaksa mengganti nomor prabayarnya karena “Nomor lamaku sudah banyak diketahui orang “asing”. Aku jadi tidak nyaman lagi,” tuturnya yang kini lebih selektif memberikan nomornya pada orang lain, agar ia bisa berkonsenterasi menggarap obsesinya.
Sedangkan bagi kalangan pebisnis atau orang dengan aktivitas tinggi, ditengarai jarang melakukan churn. Karena bagi mereka nomor ponsel adalah “nyawa”, akan kerepotan bila harus mengganti nomor lalu memberitahukan nomor barunya pada sekian banyak relasi.

Nomor Mati
Ditengarai churn selalu meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini dipicu oleh persaingan antar operator yang kian ketat dan sengit. Pengguna selular semakin mendapatkan banyak pilihan, mulai tarif termurah hingga berbagai bonus dan hadiah, yang terkesan jor-joran. Seringkali persaingan itu membuat masyarakat terhenyak.
Betapa tidak, tarif bicara yang semula terhitung mahal, kini bisa sangat murah. Bila dulu tarif bicara Rp 2.000 permenit, kini hanya Rp 100, bahkan ada yang berani lebih murah lagi. Apakah operator melakukan subsidi? Berapa keuntungan bagi operator? Ah, itu bukan urusan pelanggan.
Harga kartu perdana yang semakin murah, juga menggoda masyarakt untuk melakukan churn. Selain murah, perdana juga menawarkan berbagai bonus, yang bila dihitung-hitung jauh lebih murah daripada mengisi ulang pulsa.
Misalnya, anda mengisi ulang pulsa sebesar Rp 10.000 (dengan harga Rp 11.000) anda hanya menerima pulsa saja. Tapi bila anda membeli perdana seherga Rp 10.000, anda akan menerima pulsa, bonus SMS, bicara gratis, serta bonus lainnya, yang bila dihitung nilainya lebih dari Rp 20.000. Menguntungkan, bukan?
Tak heran bila banyak pengguna prabayar lebih suka membeli perdana daripada mengisi ulang pulsa. Beli, pakai, habis, buang! Akibatnya banyak nomor “mati”. Masalahnya, nomor kartu perdana “habis-buang” itu sudah didaftarkan operator sebagai pelanggan baru. Jadi kalau misalnya dalam satu bulan seorang pelanggan berganti nomor sebanyak 4 kali, maka operator mencatat telah mendapatkan 4 pelanggan.
Diperkirakan dari seluruh kartu perdana prabayar yang dijual semua operator saat ini, hanya 15 – 20 persen saja yang bertahan menjadi pelanggan. Sisanya hangus, namun tetap dihitung sebagai pelanggan oleh operator yang bersangkutan.
Tapi bagi operator hal itu tidak masalah. “Churn tidak akan banyak berpengaruh ke pendapatan bila penjualan kartu perdana juga naik,” ungkap Erik Meijer, praktisi selular yang juga suami artis Maudy Koesnaedi.
Beberapa kalangan menilai bahwa tindakan “mengobral” kartu perdana adalah usaha untuk mempercepat “balik modal” bagi para pemilik sahamnya. Yang penting kartu perdana cepat laku, persoalan berapa jumlah pelanggan mereka, bisa diutak-atiklah. (45)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s