Hidup di Dunia Kedua

Oleh Dian Mumpuni

halounik@yahoo.co.id

Ingin punya kehidupan lain, dan tidak menjadi diri kita yang sekarang? Bermimpi jadi presiden, raja minyak, tuan tanah, punya istri cantik atau suami ganteng, sementara di kehidupan nyata semuanya tak mungkin terwujud? Jangan berkecil hati! Karena sekarang ini kita bisa mewujudkan sesuatu yang tak mungkin di dunia nyata. Kita bakal menggapai “mimpi” dan cita-cita lewat dunia ke-2. Sebagai langkah awal, tentu saja kita harus jadi penghuni dan hidup di dunia virtual. Caranya dengan mendaftar ke situs seperti Second Life (www.secondlife.com), There (www.there.com), Entropi Universe (www.entropiuniverse.com), dan sejumlah virtual world lain.
Second Life merupakan ‘’planet’’ virtual paling populer saat ini. Situs ini diciptakan perusahaan Amerika Serikat, Linden Research California, pimpinan Philip Rosedale, tahun 2003. Second Life merupakan permainan virtual yang menyambungkan setiap orang di penjuru dunia. Linden berusaha menciptakan dunia metaversa, tempat manusia mewakilkan karakternya di dunia kedua. Di situs kehidupan kedua, seseorang dan perusahaan memiliki kehidupan bayangan di alam maya. Pengguna memiliki identitas atau representasi dan bisa menciptakan kepribadian dan kehidupan yang dibangun dalam gambar tiga dimensi.
Di planet ini kita bisa memiliki kehidupan yang sama sekali berbeda dengan kenyataan real. Misalnya saja di alam nyata kita belum menikah, tapi di Second Life kita bisa membangun keluarga. Di sana kita bisa membeli rumah, menjualnya kembali, serta melakukan berbagai aktivitas, berinteraksi, bersosialisasi, seperti bermain, berbisnis, olahraga, jatuh cinta, bahkan selingkuh. Di sana ada perusahaan seperti Coca-Cola dan Wells Fargo, komunitas bisnis, komunitas musisi, pergelaran live music, supermarket, dan hampir semua yang ada di kehidupan nyata. Tak ada pertemuan fisik secara real. Meski perjumpaan terjadi di dunia maya, ikatan batin antar sesama warga bisa terjalin.

Permainan mirip game SimCity yang meledak tahun 1995, namun lebih real ini sebenarnya tak bisa dikategorikan permainan karena tak ada misi, skor, atau pun siapa yang menang dan kalah. Penghuni dunia ini bisa terus bertahan tanpa cidera atau mati. Kelangsungan kehidupan di situs berjargon ‘’Your World, Your Imagination’’ ini, tergantung kita sendiri, mau terus aktif bermain atau sekadar iseng.
Jika ingin menjadi ‘’penduduk’’, bisa dengan cara gratis atau bayar. Warga ‘’premium’’ membayar biaya abonemen US$ 9,95 atau sekitar Rp 95 ribu. Biaya ini akan bertambah untuk sewa tanah di dunia virtual perbulan, atau membeli material rumah. Pada saat pendaftaran pengunjung mendapat jatah tanah virtual 512 meter persegi. Dan, pendaftar berbayar akan mendapat uang 1000 dolar Linden, mata uang resmi Second Life. Di sini, warga bisa menjualbelikan rumah, dan menjadikan rumah tempat bisnis. Penduduk Second Life juga bisa menikmati uang yang didapat di sana secara nyata dengan menukarkan di World Stock Exchange. Setiap pengunjung akan memiliki akun yang bisa menyertakan nomor rekening atau kartu kredit. Perusahaan Anshe Chung Studio misalnya menjadi raja real estate virtual. Perusahaan di Second Life tersebut mengantarkan Anshe menjadi jutawan sungguhan. Pendaftar tak berbayar juga bisa menambang uang karena banyak tempat yang menawarkan dolar Linden gratis, salah satunya di HippiePay, dengan cara mengisi angket yang sudah disediakan. Cara lain dengan berjoged selama 6 menit akan mendapat 2 dolar Linden. Pendaftar gratis juga bisa kerja sambilan di media Secondlifeherald yang mengundang setiap pengunjung menulis artikel dengan imbalan. Pengunjung bisa mencari lowongan kerja di sana. Kemampuan yang paling dicari adalah bidang skrip desain.
Awalnya game ini tak banyak peminat, hingga Juli 2006 jumlah pendaftar 1,5 juta orang. Kini jumlahnya mencapai 8,8 juta. Kebanyakan warga berhijrah dari dunia nyata ke virtual world, lebih dari 18 jam seminggu. Penduduk Second Life tidak perlu kendaraan karena mereka punya kemampuan terbang dan pindah tempat dalam sekejab atau teleport
Banyak perusahaan besar turut ‘’bermain’’ dengan menjadi anggota premium, membeli kapling dan mendirikan gedung-gedung untuk mempromosikan bisnis mereka. Tahun 2006, IBM melakukan investasi US$ 10 juta (sekitar Rp 91 miliar) di Second Life. Sejumlah negara seperti Swedia telah membangun gedung kedutaan virtual. Beberapa bintang pop, seperti Duran Duran, dan Suzanne Vega telah melakukan konser virtual di sana. Kantor berita Reuters juga sudah ‘’membuka’’ kantor biro di Second Life. Amazon.com dan Dell juga beroperasi di sana.
Lembaga lingkungan WWF (World Wildlife Fund) memutuskan membangun pulau virtual berisi binatang liar. Mr. Tange, orangutan yang mengendarai mobil van sambil menjual es krim serta seekor panda akan memandu pengunjung yang berminat mengelilingi pulau milik WWF. Di Second Life kita juga bisa berjalan-jalan menikmati kemegahan Stadion Arena milik Ajax Amsterdam, atau menonton konser Liverpool Orchestra. Bahkan lembaga keagamaan Katholik, Jesuit seperti dilansir majalah Civilta Cattolica juga memberikan bimbingan spiritual bagi warga Second Life yang membutuhkan.
Tak Sesuai Harapan
Namun berita terakhir yang dilansir LA Times, seperti dikutip DetikInet (16 Juli 2007), setelah berbagai perusahaan besar ramai-ramai menyerbu Second Life, kini mereka berbondong-bondong meninggalkannya. Ada apa dengan tanah impian itu?
Selama beberapa waktu, semua keadaan terlihat baik-baik saja. Konferensi pers digelar di dunia online, penjualan barang-barang virtual pun bisa terjadi. Perusahaan seperti IBM, Dell, Sun Microsystem, Nissan, hingga Reebook, pun lekat dengan citra ‘’terdepan’’ karena berani hadir di dunia virtual.
Namun kemudian mulai muncul protes. Warga Second Life menganggap perusahaan-perusahaan besar itu hanya sekadar mencari publisitas. Aksi protes digelar, toko online Reebok misalnya diserang dengan bom nuklir. Toko lain mengalami teror berupa penembakan terhadap pengunjung yang mendekat. Ada juga serangan berupa kiriman pasukan babi. Insiden-insiden tersebut, entah berkaitan atau tidak, kemudian disusul dengan hengkangnya bisnis-bisnis besar dari Second Life. Pulau milik Dell, sebut LA Times, tampak ditelantarkan. Jadwal acara di lokasi milik Sun Microsystem pun kini kosong melompong. Pulau Geek Squad dari jaringan toko Best Buy pun sepi, baik dari pengunjung atau pegawai yang harusnya siap sedia di situ.
Ian Schafer, Chief Executive Deep Focus, sebuah perusahaan pemasaran online, mengatakan kebanyakan penduduk Second Life tidak suka dengan lokasi milik perusahaan besar. Mereka, lanjut Schafer, lebih menyukai aktivitas ganjil seperti seks virtual, judi, dan sebagainya.
Alasan lain kepergian para perusahaan besar adalah sedikitnya pengunjung Second Life. Meski Linden mengklaim penduduknya sekitar 8 juta. Angka tersebut ternyata termasuk jumlah yang mendaftar tapi tidak aktif dan identitas ganda.
Brian Haven, dari Forrester Research, mengatakan pada kondisi terbanyak pun pengunjung Second Life hanya mencapai 30.000-40.000 orang. ‘’Ini angka yang jauh lebih kecil dari yang biasa dijangkau oleh pemasang iklan,’’ ujar Haven.
Perusahaan seperti IBM, yang memiliki eksistensi sangat kuat di Second Life, sudah mulai melihat pilihan lain. IBM dikabarkan mulai merambah ‘’planet’’ virtual lain, seperti There dan Entropia Universe. Hal yang sama dilakukan Millions of Us, sebuah agen konsultasi yang menangani masuknya bisnis besar ke dunia virtual. ‘’Masalahnya bukan apakah Second Life baik atau buruk, hanya saja ada banyak alternatif lain di luar sana,’’ ujar CEO Millions of Us, Reuben Steiger.
Pada tahun 2006, situs Second Life pernah diserang hacker (penyusup). Data pribadi dan rahasia dari sekitar 650 ribu account pengguna dijebol. Sebagai tindakan pengamanan, semua kata kunci (password) account Second Life dibatalkan dan penggunanya harus membuat password baru melalui link ‘’Forgot Password’’.
Terobosan Baru
CEO Millions of Us, Reuben Steiger benar, karena ternyata planet virtual lain menawarkan pilihan dan alternative. Entropia Universe memiliki terobosan baru dengan memiliki kartu ATM asli. Sehingga para pemainnya dapat mengakses uang yang mereka miliki dalam game tersebut.
‘’MindArk menantang para pemain game online, dengan memperkenalkan game gaya baru seputar perekonomian yang selalu valid dan memiliki keamanan ketat,’’ ujar Jan Welter, CEO Mindark kepada DigitalTrends.
Game yang mengambil tema tentang perekonomian ini, akan berhubungan langsung dengan nilai mata uang dalam dunia nyata. Mata uang game yang dinamakan Project Entropia Dollar (PED) sebanding dengan US$ 10. Dengan menggunakan kartu ATM Project Entropia, para pemain yang saat ini sudah terdaftar lebih dari 400.000 orang, dapat mengakses uang yang mereka miliki dalam Entropia. Sama layaknya dengan mata uang biasa di seluruh dunia dengan menggunakan mesin ATM. Uang yang mereka miliki dalam game tersebut juga dapat di transfer, dan didepositokan dari account Project Entropia Universe yang mereka miliki.
Di Entropia juga sudah terjadi lelang yang menghasilkan uang nyata sebesar US$ 213.784 yang meliputi penjualan lokasi virtual seperti pegunungan, rumah di sekitar danau, hutan hujan, hutan rimba, serta perumahan sekitar sungai.
‘’Kesuksesan lelang game Entropia, menandai dimulainya masa penjualan properti dunia maya,’’ ucap Jan Welter. Lelang juga terjadi di website dunia virtual, weblo.com Weblo akan melelang wilayah Inggris virtual. Bagi mereka yang menawar dengan harga tertinggi akan dianugerahi tahta kerajaan, menjadi raja atau ratu Inggris. ‘’Kami pikir bukan saatnya untuk menjadi presiden dari sebuah negara di dunia nyata, tapi menjadi raja atau ratu virtual,” ujar Sean Morrow mewakili Weblo seperti dikutip Yahoonews. Saat ini penawaran tertinggi untuk Inggris virtual sebesar USD70.000. Sebelumnya terdapat lelang negara Australia yang dilepas dengan harga lelang tertinggi sekitar USD53.000. ‘’Kami telah memiliki tim yang bernama weblonians yang terdiri dari warga Weblo. Jumlahnya cukup memberikan bukti bahwa mereka sangat antusias memiliki dunia sendiri,” lanjut Morrow.
Keanggotaan di Weblo tidak dipungut biaya, semua transaksi di sini hanya dalam bentuk virtual saja. Hanya saja jika pengguna mempromosikan situs, kota maupun selebriti maka weblo akan menyediakan biaya kompensasi berdasarkan jumlah pengunjung yang melihat situs promosi kita.
Keanggotaan gratis juga ditawarkan dunia virtual There. Fasilitas yang ditawarkan sama dengan Second Life, yaitu avatar tiga dimensi, hang out bersama teman-teman, bermain game, membangun rumah, mendesain dan menjual sesuatu.
Spesifikasi Minimal
Untuk bisa menjelajah dan menjadi penghuni virtual world kita harus memiliki computer PC atau MAC dengan spesifikasi tertentu. Untuk personal computer spesifikasi minimal yang diperlukan adalah koneksi internet dengan kabel atau DSL. Second Life tak bisa berfungsi dengan menggunakan koneksi dial up , satelit atau layanan internet nirkabel. Sistem operasi Windows XP (Service Pack 2) atau Windows 2000 (Service Pack 4). Second Life tak bisa di Windows Vista. Prosesor 800 MHz Pentium III atau Athion., memori 256 MB, kartu video grafik nVidia GeForce 2, GeForce 4mx atau ATI Radeon 8500,9250. Untuk MAC, koneksi internet kabel atau DSL, system operasi Mac OS x 10.3.9, prosesor 1 GHz G4, memori 512 MB, kartu video sama dengan komputer PC.
Untuk menjadi warga planet virtual kita bisa mendaftar di sejumlah situs, bisa gratis atau membayar, isi form yang tersedia. Aktifkan nama melalui surat elektronik. Unduh program yang disediakan situs, 33 megabita untuk Windows 2000/XP, 75 megabita untuk Mac OS X, 50 megabita untuk Linux i686. Instal program ke komputer, masukkan identitas ke dunia maya. Dan, bersiaplah menjadi pribadi yang diinginkan!

2 thoughts on “Hidup di Dunia Kedua

  1. Pingback: Automobile

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s